Penjelasan Lengkap Apa itu P2P Lending (Peer to Peer Lending)

- News
  • Bagikan
Penjelasan Lengkap Apa itu P2P Lending Peer to Peer Lending

Pernah kepikiran nggak, gimana kalo kita bisa pinjam uang buat modal usaha tapi tanpa perantara bank atau sebaliknya kita bisa minjemin uang ke para pengusaha UMKM dan korporasi secara langsung?

Nah pada artikel kali ini, mimin mau bahas tentang konsep pendanaan yang cukup marak selama beberapa tahun terakhir yaitu Peer to Peer Lending atau P2P Lending. Sebelum membahas tentang P2P lending, mimin mau ceritain tentang konsep dasarnya dulu nih.

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada orang yang kelebihan uang dan orang yang butuh uang. Nah sudah lebih dari 100 tahun terakhir, bank itu jadi jembatan buat orang yang kelebihan uang dan orang yang butuh uang. Orang yang kelebihan uang bakal menyimpan uangnya di bank dalam bentuk tabungan atau deposito dan dapat bunga atau imbal hasil setiap bulannya.

Bunga yang didapatkan itu umumnya sekitar 1%-an per tahun untuk bunga tabungan dan sekitar 5%-an per tahun untuk bunga deposito. Disisi lain, pihak bank bakal mengelola dan mengalokasikan uang simpanan para nasabah buat mereka yang butuh pinjaman uang entah itu kredit usaha, KPR, atau bahkan buat kartu kredit.

Dalam mengalokasikan pinjaman tersebut, pihak bank bakal menerima bunga pinjaman. Umumnya, bunga pinjaman bank itu sekitar beberapa belas persen per tahun. Sekarang coba bayangin deh, gimana kalo ada sebuah sistem yang memungkinkan setiap individu buat ngasih pinjeman dan dapetin pinjaman modal usaha tanpa melalui perantara bank? 

Konsep itulah yang diusung sama platform peer to peer lending, Platform ini menjembatani secara langsung mereka yang pengen ngasih modal dan mereka yang butuh modal. Sesuai namanya, peer to peer artinya rekan kepada rekan. Pada artikel kali ini, mimin mau bahas tentang P2P lending tapi dari sudut pandang pihak yang

ngasih pinjaman atau pendana dulu mulai dari alokasi pendanaannya, risikonya, sampai imbal hasilnya. Semoga artikel ini bisa ngasih insight buat kamu yang lagi punya uang lebih tapi bingung mau ngalokasiin uangnya ke mana.

Sekarang, kita akan mulai dengan ngebahas alokasi pendanaannya. Tadi mimin sudah jelasin sedikit lewat platform P2P lending, kita bisa minjemin uang ke peminjamnya langsung.

Yang artinya, kita bisa milih sendiri siapa peminjam yang mau kita danain. Sebelum nentuin mau minjemin ke siapa, kamu harus nentuin dulu kategori pinjaman yang mau kamu danain itu kayak gimana.

Ada 3 jenis pendanaan yang paling umum tersedia di platform P2P lending yaitu utang produktif, utang konsumtif, dan invoice financing. Kita bahas satu-satu yuk!

Baca juga:  5 Tips Jadi Investor Sukses Ala OmahCoin

1. Utang Produktif

Utang produktif itu adalah utang yang dipake buat hal-hal yang bisa ngasih nilai tambah di masa depan atau kasarnya adalah hutang buat modal usaha. Di platform P2P lending, ada banyak pilihan utang produktif. Misalnya, ngutangin usaha kecil dan menengah (UKM) yang mau gedein usahanya.

Bahkan, kita juga bisa minjemin uang ke pengusaha kecil kayak ibu-ibu rumah tangga yang mau buka usaha warung atau kantin.

2. Utang konsumtif

Utang konsumtif adalah utang yang dipake buat hal-hal yang sifatnya konsumsi entah itu sifatnya kebutuhan atau keinginan. Contohnya, utang buat biaya hidup sehari-hari, hutang buat modal nikah atau utang buat hiburan dan jalan-jalan. Kalo dari sudut pandang peminjam, konsep ini sering dikenal dengan istilah pay later.

3. Invoice Financing

Untuk yang belum mengerti tentang ini, mimin coba pake contoh kasus ya. Misalnya, Perusahaan A mau pesan seragam kerja sebanyak 10.000 setel buat seluruh karyawannya ke sebuah vendor. Pihak vendor tentu seneng banget dapat pesanan dalam jumlah banyak.

Tapi kamu harus tau, nggak semua vendor bisa mengeksekusi pesanan sebanyak itu dengan mudah. Kadang, cashflow vendor itu terbatas. Di sisi lain, biasanya pelunasan pembayaran buat proyek kayak gini itu di akhir, setelah proyeknya selesai. Dan ada kalanya, uang DP dari Perusahaan A itu nggak cukup buat belanja bahan baku yang dibutuhkan.

Dalam kasus kayak gitu, pihak vendor bisa dapetin pembayaran di muka buat memenuhi kebutuhan pesanan atau keperluan dana operasional lainnya. Caranya, dengan ngajuin pembiayaan ke platform P2P lending. Nanti di tanggal pelunasan pembayaran, invoice pembayaran dari Perusahaan A yang seharusnya dipakai buat bayar si vendor itu bakal dipake buat bayar pihak pemberi pinjaman dari platform P2P lending, Itulah konsep invoice financing.

Menarik kan? Sekarang mungkin kamu penasaran, risiko dari sisi pendana atau pemberi pinjaman itu apa aja? Resikonya besar atau kecil?

Kamu perlu tau, risiko yang bisa kita dapetin kalo minjemin uang di P2P lending adalah telat bayar dan gagal bayar. Telat bayar itu terjadi kalo pihak peminjam nggak bisa bayar pinjamannya tepat waktu dan gagal bayar itu terjadi kalau peminjam akhirnya nggak mampu buat bayar pinjamannya.

Secara umum, risiko P2P lending ini lebih tinggi dibanding konsep pinjaman lain kayak minjemin uang ke bank dalam bentuk simpanan dan deposito atau minjemin uang ke negara dalam bentuk obligasi. Soalnya, kalo kita minjemin uang ke bank risiko telat dan gagal bayar kreditnya ditanggung sama bank.

Baca juga:  5 Tips Jadi Investor Sukses Ala OmahCoin

Jadi, walaupun si peminjamnya gagal bayar kita sebagai pihak yang nyimpen uang di bank nggak akan terpengaruh. Kita tetap dapat bunga tabungan atau bunga deposito. Paling-paling si peminjam itu dikejar-kejar sama debt collector dari pihak bank, Obligasi negara juga sejauh ini bisa dibilang aman banget, belum pernah ngalamin gagal bayar. Dan secara umum, jarang banget ada negara yang gagal bayar obligasi ke masyarakatnya kecuali kalau negara yang bersangkutan lagi di fase krisis yang ekstrim.

Sementara di P2P lending, risiko telat dan gagal bayar ini nggak ditanggung sama pihak perantara tapi ditanggung langsung sama kita sebagai pemberi pinjaman atau pendana. Pihak penyedia platform P2P lending tentu bakal bantu kita buat nagih ke pihak peminjam. Tapi balik lagi, kalau peminjam bener-bener nggak ada uang buat bayar pinjaman, kita sebagai pendana yang menanggung resikonya.

Terus kalo risiko berdasarkan jenis pendanaannya gimana?

Dari 3 jenis pinjaman yang sudah kita bahas risiko yang paling rendah menurut mimin invoice financing yang kedua adalah utang produktif, dan yang paling berisiko adalah utang konsumtif.

Jadi, kalo kamu mau yang risikonya rendah, bisa pilih pendanaan invoice financing. Kalo mau naikin risikonya bisa pilih utang produktif. Kalo mau yang lebih berisiko lagi, bisa pilih utang konsumtif.

Di sisi lain, ada juga beberapa P2P lending yang nyediain fasilitas asuransi Kamu bisa meminimalisir risiko pendanaan kamu dengan asuransi yang udah disediain sama pihak P2P lending.

Jadi, kalau pihak peminjamnya gagal bayar, pihak asuransi bakal meng-cover sebagian besar atau semua pokok utang yang gagal bayar tersebut. Oh iya, biasanya pihak P2P lending juga nyediain informasi credit score peminjam. Jadi, kalau kamu mau yang risikonya lebih rendah, kamu bisa pilih yang credit score-nya bagus.

Hmm, ternyata risiko P2P lending lumayan tinggi ya? Yup, dan inget konsep investasi: High-risk, high return. Kita sudah sama-sama tau kalo risiko P2P lending lebih tinggi dibanding simpanan di bank dan obligasi dan tentu saja, return yang ditawarkan sama P2P lending juga lebih tinggi dibanding simpanan bank dan obligasi.

Berapa sih return-nya? Kita coba cek di beberapa platform P2P lending

1. Investree

Di sini kamu bisa mendanai invoice financing dan utang produktif, Investree itu ngebagi tingkat imbal hasilnya berdasarkan credit score. Semakin bagus credit score-nya, semakin rendah imbal hasilnya.

Baca juga:  5 Tips Jadi Investor Sukses Ala OmahCoin

Contohnya, credit score A+ itu imbal hasilnya paling rendah, 12% per tahun. Sementara, credit score C- itu imbal hasilnya paling tinggi, 20% per tahun.

2. Amartha

Di sini, kamu bisa mendanai para ibu-ibu untuk usahanya. Misalnya, buat ternak ikan, dagang sayur, jualan baju, dll Amartha sendiri bisa ngasih

keuntungan sampai 15% per tahun Amartha sama juga kayak Investree, ada credit risk-nya. Makin bagus credit risk-nya, semakin rendah persentase imbal hasilnya.

Oh iya, di Amartha itu cicilan pinjaman dan bunganya dibayar per minggu dan kalo uang cicilan dan bunganya itu kita pakai lagi buat pendanaan baru kita bisa dapet compounding interest atau bunga berbunga.

3. Asetku

Ini adalah pendanaan untuk utang konsumtif. Alokasi dananya bakal dipake buat mendanai pinjaman di Akulaku, Asetku sendiri ngasih bunga atau imbal hasil berdasarkan durasi pendanaan kita. Mulai dari 11% per tahun sampai 24% per tahun.

Setelah ngebahas tentang risiko dan imbal hasilnya kita bisa sama-sama kebayang dengan konsep high-risk high-return. Semakin besar risikonya, semakin besar pula potensi keuntungannya.

Sampe sini mungkin kamu mikir, P2P ini aman nggak? Kok kelihatannya berisiko banget? Kalo nanti peminjamnya kabur gimana?

Balik lagi, tergantung definisi amannya dulu apa. Kalo definisi amannya adalah ini bukan scam dan bukan penipuan jelas, ini bukan scam dan bukan penipuan asalkan kamu pilih platform P2P lending yang sudah terdaftar atau punya ijin usaha dan diawasi sama OJK.

Jangan pernah tergiur sama penyedia platform P2P lending yang belum terdaftar di OJK, sebesar apa pun imbal hasil yang dijanjiin Ini platform P2P yang sudah terdaftar atau dapat izin usaha dari OJK. Tapi, kalo definisi amannya adalah nggak akan rugi, nggak akan ada gagal bayar mungkin ini nggak cocok buat kamu.

Dari pengalaman mendanai P2P memang kita harus jeli banget nyari peminjam yang punya track record yang baik karena bakal selalu ada kasus telat bayar dan bahkan ada juga yang gagal bayar.

Oh iya, mungkin kamu penasaran Ini kan platform pinjam-meminjam, berarti nggak syariah dong?

Sebagian besar pendanaan di P2P lending itu memang pinjaman konvensional yang nggak memenuhi prinsip syariah. Tapi ada juga kok sebagian kecil pendanaan yang syariah. Di daftar P2P lending yang terdaftar di OJK ini kamu bisa lihat beberapa platform yang jenis usahanya syariah ada Investree, Ammana, Dana Syariah, Danakoo, Alami, dll.

  • Bagikan